Suharso Monoarfa menteri paling miskin dalam Kabinet Jokowi

ceritawarga.com
Plt Ketum PPP Suharso Monoarfa tiba di Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa (22/10/2019). ANTARA FOTO

Ceritawarga.com| HAMPIR semua orang yang dipilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk duduk di kursi Kabinet Indonesia Maju, memiliki dompet tebal dengan kekayaan miliaran rupiah.

Ada pula yang hartanya mencapai triliunan.

Mengutip Tribunnews. com yang coba menelusuri kekayaan 38 menteri dan kepala lembaga lewat Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), yang dirilis Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Baca juga: Mulan Jameela Pamer Tampilan saat Pelantikan DPR RI, Netizen: Mau Konser?

Termasuk juga publikasi media massa untuk mereka yang tidak wajib menyerahkan LHKPN, belum pernah masuk pemerintahan/sebelumnya, dan bukan pejabat negara.

Sayangnya harta kekayaan Pramono Anung (Sekretaris Kabinet), Agus Suparmanto (Menteri Perdagangan), dan Bahlil Lahadalia (Kepala BKPM) tidak berhasil ditemukan.

Pejabat dengan kekayaan terbanyak kemungkinan besar adalah Menteri BUMN Erick Thorir.

Disebut 'mungkin' karena belum ada laporan akurat tentang jumlah kekayaannya, baik di Bloomberg atau Forbes, yang biasa dirujuk untuk melihat kekayaan seseorang.

Baca juga  : Kisah Byson, Terpidana Mati Paling Beruntung yang Berhasil 'Kelabui' Maut Hingga 3 Kali!

Namun, Erick Thohir setidaknya mengantongi duit Rp 6,2 triliun, diperoleh dari kepemilikan dan hasil menjual saham di klub olahraga sepanjang 2013-2016.

Ini belum termasuk kekayaan yang didapat dari bisnis di bidang media massa dalam naungan Mahaka Group.

Erick Thohir adalah salah satu menteri termuda (49 tahun, kelahiran 1970).

Tahun ini ia berhasil menyelenggarakan Asian Games.

Keberhasilannya berlanjut di dunia politik dengan mengantarkan Jokowi-Maruf Amin sebagai Presiden-Wakil Presiden terpilih saat menjabat Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN).

Di bawah Erick Thohir ada Prabowo Subianto, Menteri Pertahanan sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra.

Menurut LHKPN yang disetorkan pada tahun 2018, kekayaan Prabowo Subianto menyentuh angka Rp1,95 triliun.

Rincian harta kekayaan Prabowo Subianto diumumkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada April 2019.

Terdiri dari antara lain tanah dan bangunan senilai Rp230 miliar, alat transportasi dan mesin Rp 1,432 miliar, dan harta bergerak lainnya senilai Rp 16,418 miliar.

Lalu, surat berharga senilai Rp 1,701 miliar, serta kas dan setara kas senilai Rp 1,840 miliar.

Tiga tahun setelah Soeharto lengser, tepatnya pada 2001, Prabowo Subianto mendirikan perusahaan bernama Nusantara Energy yang diklaim memiliki aset USD 1 miliar dan 10 ribu karyawan.

Prabowo Subianto dan Nusantara Energy sempat disebut International Consortium of Investigative Journalist (ICIJ), yang menginvestigasi orang-orang kaya di seluruh dunia yang 'memarkir' duitnya di negara surga pajak.

Ada dua menteri yang memiliki kekayaan relatif kecil dibanding yang lain.

Pertama, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki. Hartanya senilai Rp 4,040 miliar berdasarkan LHKPN tahun 2018.

Teten Masduki sempat menjabat Kepala Staf Presiden (KSP) pada 2015 sampai 2016, sebelum digantikan Moeldoko.

Teten Masduki adalah pejabat berlatar belakang aktivitis. Ia pernah memimpin Indonesia Corruption Watch (ICW) dan membongkar kasus suap yang melibatkan Jaksa Agung.

Namun, dia pernah dikritik keras kawan lamanya karena dianggap tidak banyak melakukan tindakan konkret saat ada di Istana.

Terakhir ada Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa.

Total kekayaannya saat menjabat Kementerian Perumahan Rakyat 10 tahun lalu sebenarnya mencapai Rp 13,398 miliar.

Antara lain terdiri dari harta tidak bergerak Rp 4,310, harta bergerak Rp 878 juta, dan harta bergerak lain berupa logam mulai senilai Rp7,810 miliar.

Ada juga giro dan setara kas senilai Rp 192 juta.

Namun, berdasarkan LHKPN yang ia serahkan tahun lalu, menteri dari PPP ini tercatat hanya memiliki harta Rp 84 juta.

Dengan demikian, Suharso Monoarfa adalah menteri dengan harta kekayaan paling rendah dalam Kabinet Indonesia Maju.(*)