Uniterre Swiss Gagas Referendum Tolak Kelapa Sawit Indonesia

ceritawarga.com
Kredit Foto : Kotak berisi tanda tangan petisi penolakan kelapa sawit asal Indonesia di Swiss yang diangkut karyawan Mahkahmah konstitusi Swiss pada Senin 22 Juni 2020. [Foto/KOMPAS.com]

CERITAWARGA.COM, SWISS | Lembaga swadaya masyarakat Uniterre mengajukan referendum penentuan nasib pemasaran produk kelapa sawit Indonesia ke Mahkamah Konstitusi Swiss. Mereka mengajukan 59.200 tanda tangan yang dimasukkan kedalam 26 buah kotak, sesuai dengan jumlah kanton (provinsi) di Swiss, pada Senin 22 Juni 2020 kemarin.

"Jika disetujui, setelah diteliti keabsahannya, tentunya, referendum penolakan produk kelapa sawit Indonesia, hanya soal waktu,“ tutur Mathias Stalder, sekretaris Uniterre, yang dikutip dari Kompas.com pada, Rabu (24/6). 

Baca juga Kemitraan Indonesia-Norwegia Memberikan Manfaat Lokal dan Dampak Global 

Mathias yakin, referendum, penentuan nasib pemasaran produk kelapa sawit, akan disetujui Makahmah Konstitusi Swiss. Ritual penyerahan kotak berisi tanda tangan untuk meminta referendum, juga diisi orasi dari Uniterre.

Isi orasinya, terkait industri kelapa sawit yang menghancurkan lingkungan hidup. Selain itu, tentang keberuntungan yang diperoleh perusahaan besar.

Sementara itu, Ronja Jansen, Presiden Juso (Jung Sozialdemokratische Partei Schweiz), berharap referendum ini akan menjadi kenyataan.

Baca juga Bantah Pernyataan Plt. Gubernur, WALHI : Sebagian Besar Perkebunan Sawit Aceh Milik Perusahaan 

"Apa yang diakibatkan oleh Industri Kelapa Sawit sangat fatal. Lingkungan hidup di Indonesia rusak, dan juga pada akhirnya berpengaruh ke pemanasan global,“ katanya.

Ronja sendiri berada dalam dilema, karena induk partai politiknya, Sozialdemokratische Partei Schweiz (SP), ikut meneken kontrak persetujuan perdangan dengan Indonesia.

"Tapi saya disini tidak mewakili SP,“ katanya.

Meski dalam perjanjian kerja sama itu ditekankan tidak ada lagi perusakan lingkungan, Ronja ragu pemerintah Indonesia bisa bersikap tegas.

"Bagaimana pengaturannya nanti. Dan bagaimana sanksinya kalau tidak ditepati perjanjiannya. Ini juga harus dipikirkan,“ imbuhnya.

Baca juga Tiur Rumondang : RSPO Mendorong Sawit Berkelanjutan 

Perjanjian kerjasama antara Indonesia dan Swiss, imbuh Ronja, hanya menguntungkan industri besar.

"Lebih banyak mudharatnya ketimbang keuntungannya. Saya berharap, referendum akan disetujui dan rakyat Swiss yang akan menentukan,“ katanya.

Masyarakat Swiss saat ini menggunakan minyak goreng dari perasan biji canola, yang sebagian besar diproduksi petani Swiss. Lalu bunga matahari, kacang tanah dan buah zaitun.

Minyak canola saat ini dikampanyekan sebagai minyak paling sehat, bersama dengan minyak zaitun. Sementara mentega yang ada di Swiss sebagian besar diproduksi dari susu sapi petani lokal. [ ]

Sumber : Kompas.com