Pernah Menjadi Gereja Selama 916 Tahun, Turki Kembali Resmikan Ayasofya Menjadi Masjid

ceritawarga.com
Kredit Foto : Masjid Ayasofya

CERITAWARGA.COM | Ayasofya, bangunan bersejarah peninggalan Konstantinopel merupakan salah satu keajaiban arsitektur dunia. Ayasofya yang berlokasi di Istanbul merupakan salah satu Situs Warisan Dunia yang telah didaftarkan ke UNESCO. Dulunya, bangunan itu merupakan jantung Kekaisaran Bizantium Kristen dan kemudian menjadi pusat Kekaisaran Ottoman Muslim, setelah kekaisaran itu menaklukkan Konstantinopel yang kini menjadi Istanbul.

Ayasofa telah digunakan sebagai gereja selama 916 tahun sejak dibangun pada tahun 537 dan beralih fungsi sebagai masjid selama 442 tahun setelah Fatih Sultan Mehmet menaklukkan konstanstinopel pada tahun 1453. Ketika kerajaan Ottoman runtuh dan Turki menjadi negara Republik, Ayasofya-pun dialih fungsikan sebagai Museum oleh Kemal Attaturk pada tahun 1935 (menjadi museum selama 85 tahun).

Baca juga Melihat Kembali Sejarah Hubungan Kerajaan Aceh dan Turki Utsmani 

Memasuki abad ke 21, Ayasofa kembali dialih fungsikan sebagai Masjid oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan. Terhitung 10 Juli 2020 Ayasofya diresmikan sebagai masjid oleh Pemerintah Turki, dengan demikian Hagia Sophia tidak akan lagi disebut museum. Status itu akan dicabut sejalan dengan keuputusan Pemerintah Turki yang menyatakan Hagia Sophia adalah masjid. Meskipun keputusan sang presiden banyak menjadi bahan perbincangan internasional, keputusan bulat presiden Tayip Erdogan tidak tergoyahkan.

Menurutnya, mengubah status Ayasofya menjadi masjid  merupakan suatu keputusan yang tepat sebagaimana Turki yang mayoritas berpenduduk muslim. Sebelum keputusan ini diresmikan, Turki banyak mendapat kritikan dari berbagai negera termasuk Amerika, Yunani dan juga Rusia. Patriark Kirill, pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, sempat mengatakan bahwa seruan untuk mengubah Hagia Sophia di Istanbul menjadi sebuah masjid, merupakan ancaman bagi Kristen.

Baca juga Libur Panjang Membuat Mahasiswa Malas Berpikir 

Presiden Erdogan mengatakan bahwa kritikan terhadap perubahan Ayasofya merupakan serangan terhadap kedaulatan Turki. Banyak warga Turki berargumen bahwa status masjid akan lebih mencerminkan identitas Turki sebagai negara mayoritas Muslim, dan jajak pendapat memperlihatkan sebagian besar warga Turki mendukung perubahan itu. Serangan dan berbagai kritikan dari luar tidak membuat keputusan Erdogan terhalang, justru membuatnya semakin semangat memperjuangkan agar Ayasofya kembali menjadi masjid. Dan kini Ayasofya telah resmi menjadi tempat ibadah bagi ummat Muslim. [ ]