Ketahanan Obat Tradisional di Masa Pandemi Covid-19

ceritawarga.com
Kredit Foto : Faizul Aulia, Mahasiswa Antropologi Unimal. [Foto/Ist]

CORONAVIRUS Disease 2019 atau disebut juga dengan Covid-19 merupakan penyakit yang dapat memberikan sejarah panjang bagi masyarakat dunia. Mulai dari pertama kali boomingnya khasus ini yang di umumkan di wuhan (China) pada pengujung tahun 2019 yang lalu memberi dampak secara langsung bagi masyarakat.

Tercatat ada ratusan lebih negara yang terpapar virus ini dan salah satu diantaranya adalah negara Indonesia. Secara menyeluruh masyarakat sadar untuk berjaga- jaga agar Covid-19 ini tidak menyebar secara luas ke semua wilayah, di desa maupun di kota. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara langsung dan sigap merespon penyebaran virus ini, sehingga beberapa protokol kesehatan diberlakukan untuk menghindari virus ini menjalar ke seluruh pelosok wilayah di dunia.

Virus bisa menyebar sangat mudah antar manusia, sehingga melalui sentuhan mata, hidung dan air liur, manusia lainnya dengan mudah akan terpapar virus ini. Protokol kesehatan mulai sangat diaktifkan, mulai dari mencuci tangan menggunakan sabun, memakai masker jika keluar dari rumah dan peningkatan imunitas yang tinggi dengan cara berolahraga.

Hal ini menjadi penting untuk dilakukan karena proses yang akan terjadi saat virus menyerang sangatlah singkat dan cepat. Dengan melakukan hal tersebut, manusia dapat mengontrol dirinya sendiri untuk menghindar dari wabah virus ini. Tapi, tak semua dapat melakukan aktifitas yang baru ini, manusia sangat perlu beradaptasi dengan aktifitas tersebut pada gaya hidup yang sehari-hari dilakukannya.

Masyarakat dengan aktivitas yang banyak diluar rumah, dengan kesibukan bekerja yang begitu padat, sehingga akses sosial yang menyeluruh secara umum tidak dapat dikendalikan, seperti dipasar-pasar yang aktivitas masyarakatnya begitu sering berinteraksi diantara sesama, sehingga pemerintah memberlakukan kebijakan aturan social distencing dan sampai kepada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Baca Juga : Pentingnya Mendampingi Anak Saat Belajar Daring 

Hal ini, sangat berdampak langsung bagi masyarakat dengan keterbatasan akses yang dilakukan tersebut, mulai dampak dari sisi ekonomi yang tidak stabil pada masyarakat, dampak psikologis yang terjadi secara tidak sadar pada masyarakat, membuat masyarakat harus melakukan strategi adaptasi yang baru, agar akses didapat seperti dulu lagi.

Arus Adaptasi Menuju Ketahanan Kesehatan

Pada bulan Mei 2020 yang lalu, keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia memberlakukan New Normal, yang dimaksudkan untuk menjaga kesehatan orang per orang agar terhindar dari wabah penyakit menular ini. Upaya pemerintah untuk menanggulangi penyakit ini sangatlah kuat, pada bulan – bulan Juni sampai Agustus, pada setiap harinya, ada puluhan bahkan ratusan orang masuk sebagai kasus baru.

Ini menandakan prospek yang diterapkan pemerintah belum semuanya berjalan dengan lancar, masyarakat perlu beradaptasi dengan keadaan untuk menyeimbangkan segala hal dalam kehidupan sehari-harinya. Adaptasi itu memberi penerangan yang spesifik dengan penerjemahan hal–hal yang memberi kontribusi makna dalam menerapkan peraturan itu.

Baca Juga : Menerapkan Prokes di Era New Normal Untuk Memutus Mata Rantai Covid-19 

Masyarakat yang sering berlalu lalang dijalan raya, di pasar dan bahkan di tempat – tempat umum lainnya, memberi gambaran sebuah penyakit ini bukanlah ditakuti, tapi terus bergerak dan dimusnahkan. ‘Seperti orang berperang, jika kita takut maka akan diserang, dan jika kita tidak takut maka kita akan melawan dan bertahan’.

Anggapan ini seakan-akan menceritakan jiwa masyarakat yang kuat terus bangkit dan terus berusaha menjalani hari demi hari.  Disatu sisi, masyarakat juga turut menjaga diri mereka dengan adapatasi dari peraturan pemerintah dan dikolaborasikan dengan warisan obatan tradisional dari orang tuanya untuk meredakan rasa kekhawatirannya dalam upaya terserang virus ganas ini.

Masyarakat juga mengkonsumsi ramuan–ramuan herbal yang diperoleh dari tanaman – tanaman yang ada diseputaran wilayah mereka. Pengolahan ramuan itu didapat dari warisan pengetahuan yang diperoleh dari orang–orang terdekatnya dan juga orang tuanya.

Baca Juga : Mari Kenali Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional 

Ramuan itu juga di mamfaatkan untuk keberlanjutan pangan kesehatan bagi dirinya dan keluarga mereka untuk terus bergulat dalam menjaga kesehatan. Mulai dari Jahe, Serey, Sirih, Kayu Manis, Daun Salam, Kunyit, Bawang Putih dan lain sebagainya diolah menjadi satu olahan herbal yang baik untuk menjaga kekebalan tubuh.

 Pernah satu ketika, saya berjumpa dengan teman seperjuangan disalah satu ruang bacaan. Dia adalah seorang penggiat wisata dan sekaligus supir yang aktif berlalu lalang dijalan raya. Saya sempat bercerita dengannya mengenai perkembangan isu terkait dengan Covid-19. Secara sederhana dia menjelaskan kepada saya, bagaimana kondisi wilayah yang dilaluinya dimasa pandemi ini.

Sedikit dia mengungkapkan bahwa dia pernah terserang penyakit menular ini pada tubuhnya. Hampir seminggu dia diserang penyakit ini, dan setiap harinya ada tahapan gejala–gejala yang dirasakannya. Awalnya dia merasa demam yang kadang tinggi dan kadang rendah, saat itu dia paham dan mulai mengkonsumsi ramuan tradisional seperti minuman Jahe, Jeruk Nipis, Serey dengan Madu yang diminum setiap harinya, bahkan 3-4 kali per hari.

Tahapan selanjutnya adalah penyerangan ke bagian hidung dan tenggorokan, dia mengkonsumsi Sirih, Bawang Putih dan ramuan yang telah disediakan saat itu. Secara berulang dia meminum dan mengkonsumsi ramuan itu untuk menjaga kesehatannya dan sampai dia benar–benar sembuh.

Upaya Melestarikan Obat Tradisional

Setiap tumbuhan memiliki manfaatnya masing-masing, tapi hanya saja kita yang awam belum menemukan mamfaat itu untuk apa saja bagi kehidupan kita. Dimasa sekarang ini, pandemi yang terus bertahan membuat masyarakat memilih mengkonsumsi obatan herbal yang diolahnya sendiri untuk ketahanan tubuhnya. Mereka juga melestarikan tanaman tersebut di halaman rumahnya sebagai Tanaman Obat Keluarga (TOGA).

Upaya itu dilakukan untuk sebuah strategi yang ampuh dalam bertahan hidup dimasa pandemi ini. Tumbuhan yang ditanam dapat berupa, Jahe, Serey, Sirih, Kunyit, Bawang Putih dan lain sebagainya. Secara menyeluruh, obat – obatan ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Jika kita lihat secara pengetahuan lokal, sangat bermamfaat bagi kesehatan tubuh kita, jika misalnya kita konsumsi setiap harinya, maka kesehatan tubuh kita akan semakin fress. Jahe yang dapat bermamfaat menghangatkan tubuh, meringankan otot nyeri disaat diserang demam tinggi, sementara Sirih sebagai antiseptik yang alami yang pengetahuan obat ini sering kita lihat pada orang tua dulu yang memakannya.

Serey sebagai antioksida yang baik dalam tubuh, dapat menghilangkan bakteri–bakteri jahat dalam tubuh. Disaat semua ramuan itu di campur menjadi satu, maka kekuatan untuk pengobatan setiap bagian kerjanya akan semakin kuat. Untuk itu sangat disarankan agar kita semua menanam tanaman obat di sekitaran rumah, guna untuk ketahanan kesehatan kita. [ ]

Penulis : Faizul Aulia, Mahasiswa Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Malikussaleh