Bagaimana Media Sosial dapat Mengubah Reaksi Masyarakat terhadap Coronavirus ?

ceritawarga.com

BEBERAPA bulan lalu, terdapat berita mengenai demo menolak kebijakan Omnibus Law yang tak sedikit menimbulkan kerugian infrastruktur. Berita ini tersebar secara luas di media sosial. Ini dapat disebut berita yang bagus. Namun dengan mengetahui fakta bahwa demo adalah suatu hal yang jarang terjadi, maka fakta tersebut tidak dapat dijadikan berita, karena kita melalui banyak hari-hari biasa tanpa adanya demo, tentunya jelas-jelas tidak akan diminati oleh banyak audiens. Seperti itulah cara kerja manusia dalam melihat suatu berita, kita semua punya tendensi untuk memperhatikan suatu hal yang dramatis.

Peneliti telah mendokumentasikan bagaimana kecenderungan kita untuk mempehatikan hal yang tidak terduga, bagaimana suatu informasi yang mengejutkan dapat memberi hiburan dan menarik banyak perhatian. Sering terjadi suatu kasus bahwa judul berita seperti ‘Pemuda Tewas Diserang Hiu’, lebih mendapatkan banyak perhatian ketimbang judul ‘Pemuda Sehat yang Berolahraga 6 Jam Perhari’.

Jika kita kaji dari segi peristiwa Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), tentunya banyak media, tak terkecuali dari akun Media Sosial (Medsos) punya kesempatan untuk membesar-besarkan masalah tersebut dengan menyajikan berita yang terkesan “berbahaya”. Hal tersebut punya kemungkinan untuk membengkokkan pola pikir kita, hingga berpikir bahwa pandemi bisa saja lebih dari yang sebenarnya ada. Namun ada satu hal yang pasti, untuk mendapatkan lebih banyak engagement, tentunya media sosial memerlukan judul berita yang tak terduga dan dramatis.

Baca Juga : Ketahanan Obat Tradisional di Masa Pandemi Covid-19

Masalahnya, pemberitaan di media sosial yang selalu mendapatkan perhatian lebih, terutama terkait Covid-19 cenderung memanfaatkan naluri manusia yang suka dengan hal yang dramatis. Manusia yang awalnya tidak terbiasa dengan kabar mengenai virus, secara tiba-tiba dalam sekitar satu tahun dikejutkan dengan kabar mengenai rumah sakit kewalahan. Kita secara tiba-tiba mendengar berita selebriti atau bahkan pemimpin dunia yang menderita pengalaman mendekati kematian di mata khalayak ramai. Kejutan seperti inilah yang selalu mendapatkan banyak perhatian. Hingga bermunculan banyaknya berita ‘asal-buat’ dengan mendramatisir konten yang sama sekali tidak begitu memperdulikan fakta, data dan teori ilmiah.

Dikarenakan banyaknya berita tentang Covid-19, publik tentunnya semakin kesulitan dalam menentukan informasi dan alasan yang benar.

Misalnya yang sering digembar-gemborkan di masyarakat yaitu mengenai isu tentang Thermo Gun Bisa Merusak Otak. Masyarakat diberi pengetahuan palsu bahwa Thermo Gun dapat memberi radiasi berbahaya karena sinar laser merah yang diarahkan ke arah dahi. Lebih parahnya, ada yang menyatakan bahwa itu bisa menyebabkan kanker otak.

Faktanya, menurut para pakar dari Departemen Fisika Kesehatan Kedokteran Medical Technology IMERI, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengatakan bahwa thermo gun tidak berbahaya sama sekali. Sinar yang keluar dari thermo gun tersebut adalah inframerah yang akan menangkap energi radiasi dari tubuh dan diubah menjadi energi listrik. Kemudian, energi itu akan ditampilkan dalam angka digital pada termometer tersebut. Jadi, cahaya yang memancar dari thermo gun hanya inframerah, bukan memancarkan radiasi apalagi laser.

Hingga ada pula debat yang mulai bermunculan di instansi pendidikan. Beberapa instansi pendidikan hingga saat ini masih saja harap-harap cemas mengenai kapan dilaksanakannya proses belajar-mengajar seperti biasa. Lebih dari itu, tak sedikit pula bermunculan kebingungan mengenai zona mana sajakah yang sebenarnya aman maupun tidak di wilayah Indonesia. Dalam hal ini, masyarakat jelas menjadi kebingungan dari berita manakah yang dapat dipercaya.

Baca Juga : Pentingnya Mendampingi Anak Saat Belajar Daring

Dengan tertutupi informasi penting oleh berita ‘dramatis buatan’ tentang Covid-19, reaksi berlebihan kita tentunya dapat menimbulkan konsekuensi serius, seperti halnya kecemasan. Salah satunya adalah seperti yang dipaparkan oleh Dokter dari Divisi Psikosomatik dan Paliatif Departemen Penyakit dalam Fakultas Kedokteran UI, dr. Rudi Putranto yaitu kecemasan dapat menyebabkan badan menjadi terasa demam, panas, hingga gampang lelah. Gejala palsu ini disebut psikosomatik, yakni kecemasan berlebih atas virus corona. Gejala ini mirip dengan gejala orang yang positif Covid-19. Padahal, kecemasan seseorang bisa hilang dengan sendirinya jika orang tersebut menenangkan diri dan merelaksasi tubuhnya.

Dokter Rudi mengatakan, otak manusia lebih mudah menerima dan menyimpan hal-hal negatif ketimbang hal-hal positif, “Pada waktu kita mendapat informasi maka otak akan mengolah informasi tersebut. Informasi itu akan menstimulasi hormon stres dan hormon yang lain akan merangsang ke organ tubuh”. Jelasnya

Banyaknya berita dan seluruh bias informasi yang tersebar di beragam media yang dibesar-besarkan tentunya mengakibatkan sangat banyak kerugian, solusi respon yang benar-benar kita perlu lakukan adalah dengan membiasakan diri untuk tidak mudah ‘tertarik’ dengan judul berita dan laporan-laporan yang terkesan dramatis. Karena sebagian besar media yang kontennya banyak disebarkan di masyarakat identik memiliki unsur itu, jadi anggaplah judul berita “panas” itu sebagai hal biasa. Di sisi lain, kita juga perlu mengetahui gambaran lengkap dan terpercaya mengenai informasi terkait Covid-19. 

Baca Juga : Menerapkan Prokes di Era New Normal Untuk Memutus Mata Rantai Covid-19

Yang benar-benar kita butuhkan bukanlah berita dramatis yang dibesar-besarkan oleh media, tetapi gambaran lengkapnya. Untuk itu kita memerlukan pelaporan data yang sistematis di mana datanya dari sumber terpercaya. Untuk mendapatkan informasi terpercaya dari data yang sistematis tersebut, maka kita bisa membuka situs resmi pemerintah di www.covid19.go.id.

Dengan lebih percaya dengan data dari sumber resmi yang ada, maka kita bisa mengurangi tingkat kepanikan dan respon yang sama sekali merugikan diri kita sendiri saat masa pandemi Covid-19. [ ]

Penulis : Hery Mulyadi, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unimal. Artikel ini merupakan opini penulis.