Mengapa Aku Menulis ?

ceritawarga.com
Kredit Foto : Muhammad Ajay Syaputra, Mahasiswa Teknik Elektro, Universitas Malikussaleh. [Foto/Ist]

BAGIKU menulis adalah sebuah kebutuhan. Menulis adalah caraku 'memperpanjang usia' karena dengan menulis namaku akan hidup lebih lama dari nyawaku.

Sama halnya seperti Michael Faraday, dia telah wafat sekitar ratusan tahun silam, tapi ilmunya masih tetap dipergunakan sampai sekarang dalam kehidupan sehari-hari dan bermanfaat bagi banyak orang.

Salah satunya tentang bagaimana mengubah medan magnet untuk menghasilkan listrik yang sering kita kenal dengan Hukum Faraday dalam teori induksi elektromagnetik, sehingga ia mendapat julukan sebagai bapak listrik.

Baca Juga : Produktif Ditengah Sistem Pembelajaran Daring di Masa Covid-19

Begitu pun dengan Chairil Anwar. Ia telah lama wafat, namun namanya terus hidup dalam bait-bait puisi yang ditulisnya.

Terlepas dari itu, aku merasa dengan menulis aku bisa bebas menorehkan semua emosionalku ke dalam bentuk tulisan. Daripada terjerembab dalam kegalauan, amarah dan rasa sakit berlarut larut, aku lebih memilih berkarya.

Merangkai emosi dalam kata-kata. Aku sadar bahwa aku bukan penulis yang handal. Tapi dengan menulis, aku menolak lupa untuk setiap moment yang ada dalam hidupku. Ingatanku bisa saja sirna dimakan usia, tapi tulisanku tak akan usang ditelan waktu.

Baca Juga : Bagaimana Media Sosial dapat Mengubah Reaksi Masyarakat terhadap Coronavirus ?

Bagiku menulis adalah kebebasan. Aku suka menulis terutama tentang kisah fiksi yang berangkat dari cerita hidupku sendiri. Kisah hidupku nyatanya tak seindah kisah hidup Raffi Ahmad.

Tapi dengan menulis aku bisa menjadi penentu takdir untuk tokoh dalam cerita yang kutulis. Aku bebas menentukan jalan hidup dan ending untuk tokoh dalam ceritaku. Aku bebas mengekspresikan imajinasiku sendiri. Aku juga bebas memposisikan diriku dalam tulisan.

Terkadang menulis juga sebagai sarana penyampaian perasaan terpendam. Aku ingin orang tau bagaimana perasaanku. Tapi lisan tak cukup handal untuk mengutarakan.

Baca Juga : Politik Adalah Seni

Aku juga ingin terlihat lebih misterius agar dia penasaran. Maka dengan tulisan kusiratkan semua rasa, agar pembaca bertanya-tanya ‘Untuk siapa tulisan ini dibuat?’, ‘Apakah ini untukku?’

Aku ingin sekali mengabadikan kisah hidupku yang kadang bahagia, sedih, sendu, nelangsa, dan semua kisah cinta yang aku alami. Selain mencurahkan segalanya dalam doa pada Allah SWT, menulis juga menjadi cara paling aman mencurahkan rasa. Karena tulisan tak akan menghakimiku, tulisan hanya setia menjadi pelampiasan emosiku.

Jika Allah memberiku umur panjang hingga tua nanti, aku ingin di kemudian hari tulisan-tulisanku menjadi pengundang tawa ketika aku membacanya lagi. Membuatku kembali memutar rekaman memori tentang kisah masa remaja yang tak mungkin kuulang. Aku ingin bisa mengenangnya dan menceritakannya pada anak cucuku kelak.

Baca Juga : Ketahanan Obat Tradisional di Masa Pandemi Covid-19

Menulislah selagi kamu mampu untuk melakukannya, karena kita tidak tahu dengan tulisan yang kita anggap biasa saja itu bisa berpengaruh dan menjadi ilmu, kemudian bermanfaat dalam hidupnya kelak.

Dan aku tersadar, bahwa hidup manusia haruslah diisi dengan kehidupan yang bermanfaat. Sesuatu yang kelak dapat menjadi amalan jariyah, seusai nafas tak lagi berhembus. 

Dari Abu Hurairah r.a, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, putuslah amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariah, ilmu yang memberi manfaat, dan anak yang saleh yang berdoa untuknya." (HR Muslim). [ ]

 

Penulis : Muhammad Ajay Syaputra, Mahasiswa Teknik Elektro, Universitas Malikussaleh