Cerita Petani Kopi di Gayo, Takut Kemiskinan Struktural dan Ajak Pilih Komoditi Lain

ceritawarga.com
Kredit Foto : Maharadi, Petani Kopi Gayo. [Foto/Ist]

CERITAWARGA.com, ACEH TENGAH | Para petani Kopi di tanah Gayo merasa gelisah dan khawatir, dimana harga Kopi terbaik dunia itu turun drastis, sejak pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) melanda dunia.

Harga Kopi sebelum pandemi melanda berada pada kisaran Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu per bambu, namun sejak pandemi hingga saat ini, harga Kopi turun drastis dan berada pada harga Rp 6 ribu dan Rp 5 ribu rupiah per bambu.

“Musim panen selama dua bulan ini, membuat petani Kopi menjadi susah, harga Kopi terjun bebas,” kata Maharadi, seorang petani Kopi Gayo yang dikutip media ini, pada Rabu (13/1/2021).

Baca Juga : Jang-Ko Desak DPRK Bener Meriah Pertanyakan Buruknya Pelayanan Damkar

Menurut Maharadi, harga Kopi yang terjun bebas sangat merugikan para petani, sebab petani harus merelakan biaya petik senilai Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu rupiah per bambu.

“Hitungannya sudah mendekati bagi dua hasil dengan jasa petik. Belum lagi petani harus mengeluarkan biaya perawatan dan pemupukan. Tentu harga ini tidak adil bagi petani,” sebut Maharadi.

Menurut Maharadi, fenomen tersebut dapat membelenggu keturunan petani Kopi di Gayo.

“Fenomena ini saya sebut sebagai coffee farmer circle atau lingkaran siklus petani Kopi. Meskipun petani disini pemilik kebun dan petani. Kalau dibiarkan, maka belenggu kemiskinan akan menjadi masif. Bisa saja anak petani Kopi di Gayo akan susah melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” kata Maharadi.

Sementara pengusaha lokal dan luar negeri, kata Maharadi, tidak merasa rugi seberapapun nilai harga Kopi.

“Mereka pembisnis atau pengusaha, jadi tidak mengenal kata rugi,” kata Maharadi.

Baca Juga : Petani Kopi Gayo Kirim Surat Terbuka Untuk Plt. Gubernur Aceh

Menurut Maharadi, bila harga Kopi terus bertahan pada kisaran Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu per bambu, maka petani Kopi harus beralih dan memilih komoditi lainnya.

“Petani harus realistis melihat kondisi pandemi ini. Belum ada jaminan harga kopi akan normal kembali dalam beberapa tahun ini. Kalaupun masih dipertahankan, pengeluaraan akan lebih banyak di pemupukan, dan perawatan,” terangnya.

Menurut Maharadi, bila para petani kopi Gayo sejahtera dengan lahannyan, maka petani akan cenderung mempertahankan. Sebaliknya, jika tak terjamin, petani akan mencari nilai ekonomi yang lebih baik, sikap tersebut harus dipilih oleh petani.

Baca Juga : Tolak Tambang, Sri Wahyuni Gelar Teatrikal Tunggal di Banda Aceh

“Semua pilihan ada di tangan petani Kopi Gayo untuk menentukan sikap di masa sulit ini. Petani kopi Gayo harus membuka mata dan beradaptasi pada tanaman lain yang potensi pasarnya menjanjikan untuk memenuhi kebutuhan hidup,” sebut Maharadi.

Luas Lahan dan Jumlah Petani di Gayo  

Sementara itu, Maharadi menyebutkan, jumlah petani yang terlibat dalam usaha Kopi Gayo di tiga kabupaten, terdiri dari Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues mencapai 78.624 Kepala Keluarga, dengan luas lahan sebesar 101.473 hektar.

Total produksi Kopi Arabika Gayo mencapai 61.761 ton per tahun, dengan rata-rata produktivitas 773 ton per hektar.

Berdasarkan data, jumlah produksi kopi dari dua wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah adalah 66,249,275 ton per tahun. Dengan asumsi produksi perbulannya sebanyak 5.520,77 ton.

Baca Juga : Gubernur Nova Larang ASN Pemerintah Aceh Gelar Pesta

Saat ini yang sudah terealisasi berdasarkan estimasi di Dinas Perdagangan Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah selama kurun waktu Januari sampai dengan April 2020 adalah 22,083 ton.

Sedangkan belum terealisasi terhitung dari bulan Mei sampai dengan Desember 2020 sebanyak 44,160 ton.

“Yang menjadi masalah belum ada kesepakatan pembelian dari buyer luar negeri, hingga berdampak turunya harga kopi Gayo. Selain itu  kebutuhan industri, distribusi, transportasi dan logistik juga menjadi kendala saat ini,” kata Maharadi.

Selain itu, saat itu saat pengepul Kopi kesulitan untuk menjual stok Kopi yang sebelumnya di kumpulkan dari petani.

Baca Juga : MPU Aceh : Penyuntikan Vaksin Sinovac Hak Individu Masyarakat

“Alasan inilah, kemudian menjadi dasar petani Kopi harus beralih ketanaman lain,” sebut Maharadi.

Pemerintah Tutup Mata

Jeritan petani Kopi Gayo seakan tak digubris oleh pemerintah, baik Pemerintah Aceh maupun pemerintah kabupaten di tanah Gayo. Mereka seakan mengabaikan derita petani Kopi yang sesungguhnya yang selama ini mengharumkan nama daerah.

“Berdasarkan jumlah produksi dan estimasi petani dari tiga kabupaten penghasil Kopi Arabika Gayo ini, petani Kopi menyumbang devisa sebesar Rp13,3 triliun per tahun,” sebut Maharadi.

Maharadi mengaku kecewa, arah kebijakan Pemerintah Aceh yang tidak berpihak kepada petani Kopi.

Baca Juga : Meski Belum Final, MUI Tetapkan Vaksin Sinovac Halal & Suci

“Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) Tahun Anggaran 2021 sebesar Rp 16,9 triliun itu tidak ada yang berpihak kepada petani Kopi di Gayo,” sesal Maharadi.

Maharadi kecewa, Pemerintah Aceh tidak memberikan stimulus untuk mengerakan ekonomi petani Kopi Gayo.

“Gubernur, Bupati, DPR Aceh, DPRK abai terhadap penderitaan petani Kopi. Mereka menipu kami dengan janjinya. Salahkah kami menjadi petani yang tak kaya dan miskin rezeki ini,” tutup Maharadi. [ ]