Muhammad Andrea, Anak Berkebutuhan Khusus Yang Bersekolah di SD

ceritawarga.com

CERITAWARGA.com, BIREUEN | Muhammad Andrea (10), seorang anak berkebutuhan khusus di Kecamatan Juli, Bireuen terpaksa mengenyam pendidikan di Sekolah Dasar (SD) yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, padahal, Muhammad Andre harus mengikuti pendidikan di sekolah yang sesuai dengan kebutuhannya, sehingga fasilitas yang dibutuhkan Andrea terpenuhi.

“Kami prihatin terhadap masa depan Andrea dan dua teman lainnya yang juga disabilitas, karena seharusnya siswa berkebutuhan khusus seyogyanya harus diajarkan sesuai dengan kebutuhan fisik dan mentalnya,” kata Kepala SD N 13 Juli, Juairiah yang dikutip media ini dari KABARJW.com, pada Jum’at (30/4/2021).

Menurut dia, seharusnya Andrea ditempatkan di sekolah inklusif, Sekolah Luar Biasa (SLB), atau pendidikan non formal lainnya.

Baca Juga : Pemerintah Aceh Jamin Akses Pendidikan Kepada Penyandang Disabilitas

“Hal ini sesuai dengan Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik Yang Memiliki Kelainan,” kata Kepsek SD N 13 Juli itu.

Menurut dia, peraturan tersebut membuka ruang bagi penyandang disabilitas, agar bisa mengenyam pendidikan di sekolah umum yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif.

“Ketika sekolah umum yang ditunjuk untuk menyelenggarakan pendidikan inklusi, maka kurikulum yang diterapkan di sekolah juga disesuaikan dengan kebutuhan penyandang disabilitas, berdasarkan minat dan bakatnya. Bahkan dengan tenaga pengajar terlatih yang akan mendidik dan menangani siswa tersebut,” jelas Juairiah.

Menurut Juairiah, meskipun sekolah yang dipimpinnya itu bukan sekolah yang ditunjuk sebagai penyelenggarakan pendidikan inklusif, namun tenaga pendidik dibawah binaannya itu selalu memberikan perhatian yang sama kepada Andrea dan siswa lainnya.

Baca Juga : Nova Ajak Masyarakat Konsisten Realisasikan Pancasila

“Semua siswa mendapatkan perlakuan yang sama, kami mendidik mereka dengan cinta. Tapi tentunya setiap siswa memiliki kebutuhan yang berbeda, semisal Andrea seharusnya memiliki guru pendamping terlatih. Karena metode pengajarannya tentu akan berbeda, sedangkan pihak sekolah kami belum memiliki hal tersebut,” katanya.

Juairiah mengaku, bila sekolah yang ia pimpin itu belum sesuai dengan standar, untuk mendidik anak-anak yang berkebutuhan khusus.

“Persoalan ini sudah kami laporkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Bireuen, mereka juga telah merespon laporan kami dengan cara mengunjungi sekolah pada 20 Februari 2021 dan melihat langsung keadaan Andrea. Mereka berjanji akan memberikan pelatihan untuk guru SD Negeri 13 Juli, agar memiliki tenaga pengajar terlatih,” sebut Juairiah.

Baca Juga : Dana Desa dan Kemiskinan Perdesaan 2015-2018

Juairiah pun mengaku bingun, karena sekolahnya memiliki keterbatasan untuk menemukan tenaga pendidik yang tepat untuk dilatih, sehingga sampai saat ini hal tersebut belum ada solusinya.

“Kita juga sudah memberikan saran kepada kedua orang tua Andrea, untuk menyekolahkan Andrea di SLB. Namun karena keterbatasan dan jarak yang jauh, pihak keluarga belum menyanggupi hal tersebut,” katanya.

Andrea yang mengindap Sindrom Down atau kelainan genetik saat ini duduk di kelas lima SD N 13 Juli. Ia memiliki cita-cita sebagai Pemanjat Kelapa, karena yang diketahui olehnya pekerjaan tersebut umumnya dilakukan oleh warga gampongnya dan bisa mendapatkan uang. Sehingga dengan pekerjaan tersebut, Andrea berharap suatu saat mendapatkan uang dan bisa membahagiakan keluarganya. [ ]

Penulis : Muhammad Dian
Editor : Abdul Halim